Minggu, 09 Oktober 2011

LUBANG BIOPORI SEBAGAI PENGENDALIAN AIR DI PERKOTAAN

Diposting oleh shine gasari di 08.21.00 0 komentar



Hidup di jaman modern dengan segalanya yang serba mudah membuat masyarakat lupa akan pentingnya peran air di dalam kehidupan sehari-hari, bahkan menjadi peran utama dalam keberlanjutan bumi. Di berbagai kota sudah jarang ditemui tempat yang memiliki ruang terbuka hijau guna menyeimbangkan air hujan yang turun di perkotaan. Ruang terbuka hijau sangat penting peranannya jika kebanyakan dari manusia di bumi ini hidup di kawasan perkotaan. Jika memang ruang terbuka hijau sudah sangat bekurang kuantitasnya di perkotaan, bagaimana dengan lubang biopori.

Lubang biopori dapat membantu masyarakat di perkotaan dalam hal menjaga keseimbangan air yang artinya jika terjadi hujan lebat, air dapat meresap kedalam lubang resapan biopori yang telah dibuat, dan jika terjadi musim kemarau serta kekeringan pada kota tersebut, sumur resapan dapat bermanfaat untuk menampung air yang turun pada musim hujan dan dapat digunakan untuk kehidupan masyarakat perkotaan. Sumber daya air yang selama ini hanya dapat dieksploitasi tanpa pelestarian akan menimbulkan kekeringan dan turunnya muka air tanah yang dapat merugikan banyak orang.

Ruang terbuka hijau yang sudah jarang sekali terlihat di kawasan perkotaan memang memaksa seluruh masyarakat turut serta dalam membangun kawasan perkotaan yang aman dan nyaman, tetapi hal itu sangat sulit sekali untuk dikendalikan. Pembangunan yang begitu pesat tanpa memperhatikan kelestarian berbagai macam sektor disekitarnya semakin mempersulit semua masyarakat yang sadar akan lingkungan. Hal itu dapat dijadikan alasan untuk melestarikan perkotaan dengan menjaga keseimbangan air tanah agar tidak berkurang jumlahnya dan jika terlalu banyakpun dapat kita gunakan menjadi sesuatu yang berguna. Caranya yaitu dimulai dari lingkungan pribadi warga masingmasing. Lingkungan perumahan hendaknya tidak dipasang tegel secara keseluruhan ataupun ditutup paving untuk menjaga rumah agar tetap bersih, jika semua lingkungan perumahan diperlakukan seperti itu maka tidak jarang akan sering terjadi banjir di kawasan perumahan tersebut bahkan di kawasan perkotaan akan sering tergenang air.

Lubang biopori dapat membantu kawasan perkotaan dalam mengurangi masalah banjir yang sering terjadi, ataupun dapat membantu menjaga dan menyimpan air yang melimpas pada saat musim hujan tiba. Pembuatan lubang biopori sangatlah mudah, setiap warga yang peduli akan kelestarian lingkungan perkotaan dapat membuat lubang biopori di pekarangan rumah masing-masing. Lubang biopori dapat juga dibuat di sekitar halaman perkantoran, pabrik, dan sekolah. Dibutuhkan kerjasama dalam pembuatan biopori agar pengurangan banjir dapat terjadi secara merata setiap tahunnya.

Pembuatan Lubang Biopori Untuk Menyeimbangkan Air Tanah

Lokasi pembuatan LRB

LRB dapat dibuat di dasar saluran yang semula dibuat untuk membuang air hujan. Di dasar alur yang dibuat sekeliling batang pohon atau batas taman.

Cara pembuatan LRB

Buat lubang silindris ke dalam tanah dengan diameter 10 cm, kedalaman sekitar 100 cm atau jangan melampaui kedalaman air tanah pada dasar saluran atau alur yang telah dibuat. Jarak antar lubang 50 sampai 100 cm. Mulut lubang dapat diperkuat dengan adukan semen selebar 2-3 cm, setebal 2 cm di sekeliling mulut lubang. Segera isi lubang LRB dengan sampah organik yang berasal dari sisa tanaman yang dihasilkan dari dedaunan pohon, pangkasan rumput dari halaman atau sampah dapur. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang menyusut karena proses pelapukan. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang.

Jumlah LRB yang perlu dibuat

Sebagai contoh untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air perlubang 3 liter/menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidang kedap perlu dibuat sebanyak (50 x 100): 180 = 28 lubang.

Bila lubang yang dibuat berdiameter 10 cm kedalaman 100 cm, setiap lubang dapat menampung 7,8 liter sampah organik, berarti tiap lubang dapat diisi sampah organik dapur 2-3 hari. Dengan demikian 28 lubang baru dapat dipenuhi sampah organik yang dihasilkan selama 56- 84 hari, di mana dalam kurun waktu tersebut lubang perlu diisi kembali. (Sumber: Majalah Air Minum – 01 April 2008, http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/lubang-resapan-biopori/)

Pembuatan lubang biopori dapat dilakukan dimana saja, bahkan dikawasan perumahan yang seluruhnya tertutup oleh semen atau dapat dikatakan kedap air. Dengan adanya kerjasama antarwarga disekitar perumahan ataupun permukiman, seluruh warga dapat berperan secara langsung untuk mengurangi dampak terjadinya banjir dikwasan perumahan masing-masing ataupun banjir dikawasan perkotaan.

Sistem Kerja Dan Manfaat Lubang Resapan Biopori

Setelah melakukan pelubangan pada titik-titik yang dikehendaki guna mengurangi banyaknya lipasan air yang terbuang percuma saat terjadi banjir menggunakan alat pelubang atau pembuat biopori, lubang tersebut dapat dimasukkan sampah organik yang bisa berupa daun atau ranting kering serta sampah rumahtangga. Keberadaan sampah organik ini berfungsi untuk membantu menghidupkan cacing tanah dan rayap yang nantinya akan membuat biopori. Warga tidak perlu khawatir akan sampah organik yag nantinya akan meluap jika banir datang dan masuk ke dalam lubang biopori dikarenakan air yang telah masuk ke dalam lubang biopori tersebut akan diserap sebanyak-banyaknya oleh tanah dan tidak akan menimbulkan luapan dan yang nantinya juga akan membantu mengurangi banjir di daerah perkotaan.

Pada kawasan yang kedap air seperti perumahan yang 100 persen muka tanahnya telah ditutup oleh paving ataupun semen tidak perlu khawatir, karena bor biopori dapat digunakan dimana saja. Jika di perumahan yang kondisinya seperti ini selain lubang biopori diterapkan di dalam halaman rumah masing-masing warga, hal tercepat untuk mengurangi banjir dikarenakan tidak adanya tempat penampungan atau tempat meresapnya air yang melimpas di kawasan perumahan ini dapat diterapkan lubang biopori di sekitar saluran air yang ada di perumahan tersebut. jika terjadi banjir di kawasan perumahan tersebut, maka lubang biopori dapat berfungsi sebagai tempat meresapnya air ke dalam tanah. Jadi air yang melimpas kesegala penjuru dapat masuk dan diserap sebanyak-banyaknya oleh lubang biopori yang terdapat disekitar saluran air.

Lubang biopori juga dapat dibuat di sekitar akar-akar pepohonan ataupun di sekitar tanaman-tanaman. Hal itu juga akan menjadikan tanaman disekitarnya tumbuhh subur. Lubang biopori tidak hanya dapat mengurangi banjir yag sering terjadi di kawasan perkotaan, tetapi juga dapat mengurangi sampah organik yag berasal dari ruah tangga, karena lubang biopori dapat menjadi tempat pembuangannya. Tidak hanya itu saja, lubang biopori juga dapat berguna sebagai tempat pembuatan pupuk kompos yang berasal dari kotoran-kotoran organik, jadi pupuk ini nanti dapat dipanen disaat tidak ada hujan atau pada saat musim kemarau. Jika banyak masyarakat luas yang bepikir bahwa lubang resapan biopori ini akan mejadikan kawasan disekitarnya berbahaya atau akan dijadikan tempat tinggal bagi ular ataupun tikus, tidak perlu khawatir karena lubang biopori ini akan selalu tergenang air.

jika banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan lubang biopori di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, maka dapat dimungkingkan tidak akan ada lagi berita tentang banjir yang mengakibatkan kerugian jutaan bahkan milyaran rupiah. Dengan banyaknya lubang biopori ini juga, sampah organik yang berasal dari rumah tangga dapat berkurang secara signifikan, dan sumber daya air yang berada di dalam tanahpun juga tetap dapat seimbang dan terjaga kuantitasnya. Jika musim kemarau panjang datang, tidak ada lagi keluhan akan kekeringan dan kekurangan air, karena perkotaan semakin kaya dengan air tanah, dan dengan banyaknya lubang biopori juga akan membuat terjaganya muka air tanah tetap tinggi dibandingkan dengan muka air laut, hal ini meminimalisir terjadinya penurunan muka tanah atau kasus amblesnya tanah di kawasan perkotaan.

Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dengan bekerjasama membuat lubang biopori untuk melestarikan keberadaan air tanah dan menjaga kuantitasnya agar masyarakat tetap dapat memanfaatkannya

Jumat, 30 September 2011

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM AIR BERSIH DAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KABUPATEN LUMAJANG JAWA TIMUR

Diposting oleh shine gasari di 21.58.00 0 komentar


ANALISIS STUDI KASUS


Pada desa-desa di daerah Lumajang, Jawa Timur mereka telah sadar akan perlunya pembangunan di daerah permukimannya. Pada studi kasus tersebut telah terdapat banyak keadaran dari warga sekitar, maupun pemerintah sekitar untuk turut membantu dan memenuhi fasilitas yang memang seharusnya terpenuhi pada desa-desa di Lumajang. Disini terjadi peran aktif masyarakat sehingga fasilitator tidak merasa kesulitan lagi untuk mengajak masyarakat turut serta membangun daerahnya. Pada awalnya sebelum banyak desa yang menjadi tempat pelaksanaan proyek para fasiltator masih harus bekerjasama dengan pemerintah untuk menggerakkan masyarakat yang belum memmiliki banyak informasi, tetapi dengan kurun waktu dan proses yang panjang, pada akhirnya warga setempat memiliki inisiatif membangun desanya menjadi lebih baik lagi. Sehingga, desa-desa lain yang berada di sekitarnya yang masih dalam ruang lingkup daerah Lumajang tidak perlu untuk dibina secara intensif seperti desa-desa terdahulu, mereka telah mencari informasi dengan sendirinya karena memiliki keinginan untuk merubah desa mereka.

Para warga sudah masuk dalam tahapan ingin merancang desa mereka sendiri tetapi masih perlu adanya pengarahan dari pihak yang lebih berpengalaman yaitu fasilitator maupun pemerintah. Kesenjangan kepercayaan terhadap satu sama lainpun tidak dipermasalahkan karena warga sudah percaya dan mendapat banyak inforasi meski pemerintah dan fasilitator tidak mengintensifkan pemberian informasi terhadap warga. Di tingkatan yang dapat disebut partnership ini warga dan fasilitator bersama dengan pemerintah menjalankan proyek seperti harapan warga. Pemerintah memantau warga akan keputusan-keputusan yang dibuat oleh warga, warga membuat keputusan sendiri bersama degan masukan warga yang lain dan fasilitator mendampingi warga dalam penyuksesan proyek.

Dengan kesdaran warga yang begitu tinggi dan kemampuan warga yang tidak bisa diragukan lagi oleh pemerintah inilah yang akan membawa desa mereka menjadi desa yang maju dan menjadi seperti harapan banyak pihak. Di tingkatan ini warga mengontrol sendiri apa yang diperlukan oleh desanya, sudah ada penanganan sendiri meski tanpa bantuan dari masyarakat dan pihak fasilitator. Dana yang pada awalnya dialokasikan pemerintah menjadi berkurang dikarenakan warga sudah berinisiatif sendiri untuk membangun desanya dengan iuran wajib yang mereka laksanakan sendiri. Partisipasi yang sudah mencapai tingkat tertinggi inilah yang akan sangat membantu pemerintah untuk mengentaskan kawasan-kawasan yang perlu untuk dibangun dan diperbaiki kembali. Pemerintah dan fasilitator pada tingkatan tertinggi dalam tangga partisipasi ini bukan tidak melakukan tugas apa-apa lagi tetapi tetap mengawasi dari jauh semua perbaikan yang dilakukan oleh warga sehingga perbaikan mereka tidak sampai melampaui batas atau melencenga dari jalur yang dikehendaki.

Faktor-faktor pendukung keberhasilan Partisipasi:

Titik berat proyek pada keterlibatan warga dalam perencanaan, pembangunan, pengelolaan, pemeliharaan, dan pendanaan

Sarana-sarana air bersih yang baru kebanyakan sudah memiliki perencanaan dan teknis pelaksanaan yang lebih baik

Dukungan dan keterlibatan tokoh lokal, baik yang formal maupun informal, sangat penting untuk mendukung kelangsungan proyek

Peraturan-peraturan tent Keinginan warga desa untuk memanfaatkan air dengan lebih baik dan pengalaman-pengalaman positif desa-desa peserta awal proyek

Sebagian besar UPS berfungsi secara efektif, dan sangat dipercaya, hal ini disebabkan pelatihan yang sudah mereka dapatkan, latar belakang mereka di daerah tersebut, dan adanya gaji dari pekerjaan yang mereka laksanakan

ang penggunaan air, bisa mengurangi potensi konflik

Faktor-faktor yang menghambat keberhasilan Partisipasi

Sejumlah warga tidak bisa menerima estimasi iuran pemeliharaan yang ternyata meleset, atau kenaikkan

jumlah iuran, juga iuran yang relatif mahal.

Berbagi sumber air bisa menjadi ancaman terhadap kesinambungan proyek

UPS yang kurang termotivasi juga bisa menjadi ancaman bagi kesinambungan proyek

Pemanfaatan air dengan tidak efisien

Kesulitan bahasa

Pemecahan Masalah Yang Dihadapi Dalam Studi Kasus:

Pemecahan masalah pada studi kasus diatas adalah meningkatan kerjasama warga, fasilitator dan pemerintah yang bersangkutan. Masyarakat juga sudah mulai sadar dan mau bertindak untuk mengambil keputusan tegas dalam memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri, dengan banyaknya masyarakat atau warga yang sadar akan hal tersebut dan mau menindak lanjuti kemauan mereka maka pemerintah dan fasilitator hanya perlu membimbing dan mengarahkan mereka pada tujuan yang mereka inginkan untuk merubah daerahnya menjadi lebih baik dan berpotensi lagi.

Pemecahan masalah ditinjau dari segi hambatan dan strategi yang ada, masalah timbul kebanyakan karena adanya salah paham antara pemerintah, fasilitator dengan warga yang memiliki daerah maka jalan keluar masalah tersebut adalah lebih membangun kesdaran, kepercayaan dan rasa saling mengahargai satu sama lain (pemerintah, fasilitator, dan warga setempat). Dengan rasa saling memubutuhkan dan menghargai seperti itu maka angka ketidakpercayaan dan hambatan-hambatan yang dapat mempengaruhi terbangunnya suatu kawasan dapat diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA STUDI KASUS:

Nn. 2006. The World Bank. INOVASI PELAYANAN PRO-MISKIN: SEMBILAN STUDI KASUS DI INDONESIA. http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Publication/280016-1152870963030/2753486-1165385030085/vopcasestudy_bhs.pdf. Diakses tanggal 1 April 2011

Minggu, 09 Oktober 2011

LUBANG BIOPORI SEBAGAI PENGENDALIAN AIR DI PERKOTAAN



Hidup di jaman modern dengan segalanya yang serba mudah membuat masyarakat lupa akan pentingnya peran air di dalam kehidupan sehari-hari, bahkan menjadi peran utama dalam keberlanjutan bumi. Di berbagai kota sudah jarang ditemui tempat yang memiliki ruang terbuka hijau guna menyeimbangkan air hujan yang turun di perkotaan. Ruang terbuka hijau sangat penting peranannya jika kebanyakan dari manusia di bumi ini hidup di kawasan perkotaan. Jika memang ruang terbuka hijau sudah sangat bekurang kuantitasnya di perkotaan, bagaimana dengan lubang biopori.

Lubang biopori dapat membantu masyarakat di perkotaan dalam hal menjaga keseimbangan air yang artinya jika terjadi hujan lebat, air dapat meresap kedalam lubang resapan biopori yang telah dibuat, dan jika terjadi musim kemarau serta kekeringan pada kota tersebut, sumur resapan dapat bermanfaat untuk menampung air yang turun pada musim hujan dan dapat digunakan untuk kehidupan masyarakat perkotaan. Sumber daya air yang selama ini hanya dapat dieksploitasi tanpa pelestarian akan menimbulkan kekeringan dan turunnya muka air tanah yang dapat merugikan banyak orang.

Ruang terbuka hijau yang sudah jarang sekali terlihat di kawasan perkotaan memang memaksa seluruh masyarakat turut serta dalam membangun kawasan perkotaan yang aman dan nyaman, tetapi hal itu sangat sulit sekali untuk dikendalikan. Pembangunan yang begitu pesat tanpa memperhatikan kelestarian berbagai macam sektor disekitarnya semakin mempersulit semua masyarakat yang sadar akan lingkungan. Hal itu dapat dijadikan alasan untuk melestarikan perkotaan dengan menjaga keseimbangan air tanah agar tidak berkurang jumlahnya dan jika terlalu banyakpun dapat kita gunakan menjadi sesuatu yang berguna. Caranya yaitu dimulai dari lingkungan pribadi warga masingmasing. Lingkungan perumahan hendaknya tidak dipasang tegel secara keseluruhan ataupun ditutup paving untuk menjaga rumah agar tetap bersih, jika semua lingkungan perumahan diperlakukan seperti itu maka tidak jarang akan sering terjadi banjir di kawasan perumahan tersebut bahkan di kawasan perkotaan akan sering tergenang air.

Lubang biopori dapat membantu kawasan perkotaan dalam mengurangi masalah banjir yang sering terjadi, ataupun dapat membantu menjaga dan menyimpan air yang melimpas pada saat musim hujan tiba. Pembuatan lubang biopori sangatlah mudah, setiap warga yang peduli akan kelestarian lingkungan perkotaan dapat membuat lubang biopori di pekarangan rumah masing-masing. Lubang biopori dapat juga dibuat di sekitar halaman perkantoran, pabrik, dan sekolah. Dibutuhkan kerjasama dalam pembuatan biopori agar pengurangan banjir dapat terjadi secara merata setiap tahunnya.

Pembuatan Lubang Biopori Untuk Menyeimbangkan Air Tanah

Lokasi pembuatan LRB

LRB dapat dibuat di dasar saluran yang semula dibuat untuk membuang air hujan. Di dasar alur yang dibuat sekeliling batang pohon atau batas taman.

Cara pembuatan LRB

Buat lubang silindris ke dalam tanah dengan diameter 10 cm, kedalaman sekitar 100 cm atau jangan melampaui kedalaman air tanah pada dasar saluran atau alur yang telah dibuat. Jarak antar lubang 50 sampai 100 cm. Mulut lubang dapat diperkuat dengan adukan semen selebar 2-3 cm, setebal 2 cm di sekeliling mulut lubang. Segera isi lubang LRB dengan sampah organik yang berasal dari sisa tanaman yang dihasilkan dari dedaunan pohon, pangkasan rumput dari halaman atau sampah dapur. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang menyusut karena proses pelapukan. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang.

Jumlah LRB yang perlu dibuat

Sebagai contoh untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air perlubang 3 liter/menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidang kedap perlu dibuat sebanyak (50 x 100): 180 = 28 lubang.

Bila lubang yang dibuat berdiameter 10 cm kedalaman 100 cm, setiap lubang dapat menampung 7,8 liter sampah organik, berarti tiap lubang dapat diisi sampah organik dapur 2-3 hari. Dengan demikian 28 lubang baru dapat dipenuhi sampah organik yang dihasilkan selama 56- 84 hari, di mana dalam kurun waktu tersebut lubang perlu diisi kembali. (Sumber: Majalah Air Minum – 01 April 2008, http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/lubang-resapan-biopori/)

Pembuatan lubang biopori dapat dilakukan dimana saja, bahkan dikawasan perumahan yang seluruhnya tertutup oleh semen atau dapat dikatakan kedap air. Dengan adanya kerjasama antarwarga disekitar perumahan ataupun permukiman, seluruh warga dapat berperan secara langsung untuk mengurangi dampak terjadinya banjir dikwasan perumahan masing-masing ataupun banjir dikawasan perkotaan.

Sistem Kerja Dan Manfaat Lubang Resapan Biopori

Setelah melakukan pelubangan pada titik-titik yang dikehendaki guna mengurangi banyaknya lipasan air yang terbuang percuma saat terjadi banjir menggunakan alat pelubang atau pembuat biopori, lubang tersebut dapat dimasukkan sampah organik yang bisa berupa daun atau ranting kering serta sampah rumahtangga. Keberadaan sampah organik ini berfungsi untuk membantu menghidupkan cacing tanah dan rayap yang nantinya akan membuat biopori. Warga tidak perlu khawatir akan sampah organik yag nantinya akan meluap jika banir datang dan masuk ke dalam lubang biopori dikarenakan air yang telah masuk ke dalam lubang biopori tersebut akan diserap sebanyak-banyaknya oleh tanah dan tidak akan menimbulkan luapan dan yang nantinya juga akan membantu mengurangi banjir di daerah perkotaan.

Pada kawasan yang kedap air seperti perumahan yang 100 persen muka tanahnya telah ditutup oleh paving ataupun semen tidak perlu khawatir, karena bor biopori dapat digunakan dimana saja. Jika di perumahan yang kondisinya seperti ini selain lubang biopori diterapkan di dalam halaman rumah masing-masing warga, hal tercepat untuk mengurangi banjir dikarenakan tidak adanya tempat penampungan atau tempat meresapnya air yang melimpas di kawasan perumahan ini dapat diterapkan lubang biopori di sekitar saluran air yang ada di perumahan tersebut. jika terjadi banjir di kawasan perumahan tersebut, maka lubang biopori dapat berfungsi sebagai tempat meresapnya air ke dalam tanah. Jadi air yang melimpas kesegala penjuru dapat masuk dan diserap sebanyak-banyaknya oleh lubang biopori yang terdapat disekitar saluran air.

Lubang biopori juga dapat dibuat di sekitar akar-akar pepohonan ataupun di sekitar tanaman-tanaman. Hal itu juga akan menjadikan tanaman disekitarnya tumbuhh subur. Lubang biopori tidak hanya dapat mengurangi banjir yag sering terjadi di kawasan perkotaan, tetapi juga dapat mengurangi sampah organik yag berasal dari ruah tangga, karena lubang biopori dapat menjadi tempat pembuangannya. Tidak hanya itu saja, lubang biopori juga dapat berguna sebagai tempat pembuatan pupuk kompos yang berasal dari kotoran-kotoran organik, jadi pupuk ini nanti dapat dipanen disaat tidak ada hujan atau pada saat musim kemarau. Jika banyak masyarakat luas yang bepikir bahwa lubang resapan biopori ini akan mejadikan kawasan disekitarnya berbahaya atau akan dijadikan tempat tinggal bagi ular ataupun tikus, tidak perlu khawatir karena lubang biopori ini akan selalu tergenang air.

jika banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan lubang biopori di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, maka dapat dimungkingkan tidak akan ada lagi berita tentang banjir yang mengakibatkan kerugian jutaan bahkan milyaran rupiah. Dengan banyaknya lubang biopori ini juga, sampah organik yang berasal dari rumah tangga dapat berkurang secara signifikan, dan sumber daya air yang berada di dalam tanahpun juga tetap dapat seimbang dan terjaga kuantitasnya. Jika musim kemarau panjang datang, tidak ada lagi keluhan akan kekeringan dan kekurangan air, karena perkotaan semakin kaya dengan air tanah, dan dengan banyaknya lubang biopori juga akan membuat terjaganya muka air tanah tetap tinggi dibandingkan dengan muka air laut, hal ini meminimalisir terjadinya penurunan muka tanah atau kasus amblesnya tanah di kawasan perkotaan.

Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dengan bekerjasama membuat lubang biopori untuk melestarikan keberadaan air tanah dan menjaga kuantitasnya agar masyarakat tetap dapat memanfaatkannya

Jumat, 30 September 2011

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM AIR BERSIH DAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KABUPATEN LUMAJANG JAWA TIMUR


ANALISIS STUDI KASUS


Pada desa-desa di daerah Lumajang, Jawa Timur mereka telah sadar akan perlunya pembangunan di daerah permukimannya. Pada studi kasus tersebut telah terdapat banyak keadaran dari warga sekitar, maupun pemerintah sekitar untuk turut membantu dan memenuhi fasilitas yang memang seharusnya terpenuhi pada desa-desa di Lumajang. Disini terjadi peran aktif masyarakat sehingga fasilitator tidak merasa kesulitan lagi untuk mengajak masyarakat turut serta membangun daerahnya. Pada awalnya sebelum banyak desa yang menjadi tempat pelaksanaan proyek para fasiltator masih harus bekerjasama dengan pemerintah untuk menggerakkan masyarakat yang belum memmiliki banyak informasi, tetapi dengan kurun waktu dan proses yang panjang, pada akhirnya warga setempat memiliki inisiatif membangun desanya menjadi lebih baik lagi. Sehingga, desa-desa lain yang berada di sekitarnya yang masih dalam ruang lingkup daerah Lumajang tidak perlu untuk dibina secara intensif seperti desa-desa terdahulu, mereka telah mencari informasi dengan sendirinya karena memiliki keinginan untuk merubah desa mereka.

Para warga sudah masuk dalam tahapan ingin merancang desa mereka sendiri tetapi masih perlu adanya pengarahan dari pihak yang lebih berpengalaman yaitu fasilitator maupun pemerintah. Kesenjangan kepercayaan terhadap satu sama lainpun tidak dipermasalahkan karena warga sudah percaya dan mendapat banyak inforasi meski pemerintah dan fasilitator tidak mengintensifkan pemberian informasi terhadap warga. Di tingkatan yang dapat disebut partnership ini warga dan fasilitator bersama dengan pemerintah menjalankan proyek seperti harapan warga. Pemerintah memantau warga akan keputusan-keputusan yang dibuat oleh warga, warga membuat keputusan sendiri bersama degan masukan warga yang lain dan fasilitator mendampingi warga dalam penyuksesan proyek.

Dengan kesdaran warga yang begitu tinggi dan kemampuan warga yang tidak bisa diragukan lagi oleh pemerintah inilah yang akan membawa desa mereka menjadi desa yang maju dan menjadi seperti harapan banyak pihak. Di tingkatan ini warga mengontrol sendiri apa yang diperlukan oleh desanya, sudah ada penanganan sendiri meski tanpa bantuan dari masyarakat dan pihak fasilitator. Dana yang pada awalnya dialokasikan pemerintah menjadi berkurang dikarenakan warga sudah berinisiatif sendiri untuk membangun desanya dengan iuran wajib yang mereka laksanakan sendiri. Partisipasi yang sudah mencapai tingkat tertinggi inilah yang akan sangat membantu pemerintah untuk mengentaskan kawasan-kawasan yang perlu untuk dibangun dan diperbaiki kembali. Pemerintah dan fasilitator pada tingkatan tertinggi dalam tangga partisipasi ini bukan tidak melakukan tugas apa-apa lagi tetapi tetap mengawasi dari jauh semua perbaikan yang dilakukan oleh warga sehingga perbaikan mereka tidak sampai melampaui batas atau melencenga dari jalur yang dikehendaki.

Faktor-faktor pendukung keberhasilan Partisipasi:

Titik berat proyek pada keterlibatan warga dalam perencanaan, pembangunan, pengelolaan, pemeliharaan, dan pendanaan

Sarana-sarana air bersih yang baru kebanyakan sudah memiliki perencanaan dan teknis pelaksanaan yang lebih baik

Dukungan dan keterlibatan tokoh lokal, baik yang formal maupun informal, sangat penting untuk mendukung kelangsungan proyek

Peraturan-peraturan tent Keinginan warga desa untuk memanfaatkan air dengan lebih baik dan pengalaman-pengalaman positif desa-desa peserta awal proyek

Sebagian besar UPS berfungsi secara efektif, dan sangat dipercaya, hal ini disebabkan pelatihan yang sudah mereka dapatkan, latar belakang mereka di daerah tersebut, dan adanya gaji dari pekerjaan yang mereka laksanakan

ang penggunaan air, bisa mengurangi potensi konflik

Faktor-faktor yang menghambat keberhasilan Partisipasi

Sejumlah warga tidak bisa menerima estimasi iuran pemeliharaan yang ternyata meleset, atau kenaikkan

jumlah iuran, juga iuran yang relatif mahal.

Berbagi sumber air bisa menjadi ancaman terhadap kesinambungan proyek

UPS yang kurang termotivasi juga bisa menjadi ancaman bagi kesinambungan proyek

Pemanfaatan air dengan tidak efisien

Kesulitan bahasa

Pemecahan Masalah Yang Dihadapi Dalam Studi Kasus:

Pemecahan masalah pada studi kasus diatas adalah meningkatan kerjasama warga, fasilitator dan pemerintah yang bersangkutan. Masyarakat juga sudah mulai sadar dan mau bertindak untuk mengambil keputusan tegas dalam memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri, dengan banyaknya masyarakat atau warga yang sadar akan hal tersebut dan mau menindak lanjuti kemauan mereka maka pemerintah dan fasilitator hanya perlu membimbing dan mengarahkan mereka pada tujuan yang mereka inginkan untuk merubah daerahnya menjadi lebih baik dan berpotensi lagi.

Pemecahan masalah ditinjau dari segi hambatan dan strategi yang ada, masalah timbul kebanyakan karena adanya salah paham antara pemerintah, fasilitator dengan warga yang memiliki daerah maka jalan keluar masalah tersebut adalah lebih membangun kesdaran, kepercayaan dan rasa saling mengahargai satu sama lain (pemerintah, fasilitator, dan warga setempat). Dengan rasa saling memubutuhkan dan menghargai seperti itu maka angka ketidakpercayaan dan hambatan-hambatan yang dapat mempengaruhi terbangunnya suatu kawasan dapat diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA STUDI KASUS:

Nn. 2006. The World Bank. INOVASI PELAYANAN PRO-MISKIN: SEMBILAN STUDI KASUS DI INDONESIA. http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Publication/280016-1152870963030/2753486-1165385030085/vopcasestudy_bhs.pdf. Diakses tanggal 1 April 2011

 

The Amazing World Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting