Jumat, 30 September 2011

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM AIR BERSIH DAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KABUPATEN LUMAJANG JAWA TIMUR

Diposting oleh shine gasari di 21.58.00


ANALISIS STUDI KASUS


Pada desa-desa di daerah Lumajang, Jawa Timur mereka telah sadar akan perlunya pembangunan di daerah permukimannya. Pada studi kasus tersebut telah terdapat banyak keadaran dari warga sekitar, maupun pemerintah sekitar untuk turut membantu dan memenuhi fasilitas yang memang seharusnya terpenuhi pada desa-desa di Lumajang. Disini terjadi peran aktif masyarakat sehingga fasilitator tidak merasa kesulitan lagi untuk mengajak masyarakat turut serta membangun daerahnya. Pada awalnya sebelum banyak desa yang menjadi tempat pelaksanaan proyek para fasiltator masih harus bekerjasama dengan pemerintah untuk menggerakkan masyarakat yang belum memmiliki banyak informasi, tetapi dengan kurun waktu dan proses yang panjang, pada akhirnya warga setempat memiliki inisiatif membangun desanya menjadi lebih baik lagi. Sehingga, desa-desa lain yang berada di sekitarnya yang masih dalam ruang lingkup daerah Lumajang tidak perlu untuk dibina secara intensif seperti desa-desa terdahulu, mereka telah mencari informasi dengan sendirinya karena memiliki keinginan untuk merubah desa mereka.

Para warga sudah masuk dalam tahapan ingin merancang desa mereka sendiri tetapi masih perlu adanya pengarahan dari pihak yang lebih berpengalaman yaitu fasilitator maupun pemerintah. Kesenjangan kepercayaan terhadap satu sama lainpun tidak dipermasalahkan karena warga sudah percaya dan mendapat banyak inforasi meski pemerintah dan fasilitator tidak mengintensifkan pemberian informasi terhadap warga. Di tingkatan yang dapat disebut partnership ini warga dan fasilitator bersama dengan pemerintah menjalankan proyek seperti harapan warga. Pemerintah memantau warga akan keputusan-keputusan yang dibuat oleh warga, warga membuat keputusan sendiri bersama degan masukan warga yang lain dan fasilitator mendampingi warga dalam penyuksesan proyek.

Dengan kesdaran warga yang begitu tinggi dan kemampuan warga yang tidak bisa diragukan lagi oleh pemerintah inilah yang akan membawa desa mereka menjadi desa yang maju dan menjadi seperti harapan banyak pihak. Di tingkatan ini warga mengontrol sendiri apa yang diperlukan oleh desanya, sudah ada penanganan sendiri meski tanpa bantuan dari masyarakat dan pihak fasilitator. Dana yang pada awalnya dialokasikan pemerintah menjadi berkurang dikarenakan warga sudah berinisiatif sendiri untuk membangun desanya dengan iuran wajib yang mereka laksanakan sendiri. Partisipasi yang sudah mencapai tingkat tertinggi inilah yang akan sangat membantu pemerintah untuk mengentaskan kawasan-kawasan yang perlu untuk dibangun dan diperbaiki kembali. Pemerintah dan fasilitator pada tingkatan tertinggi dalam tangga partisipasi ini bukan tidak melakukan tugas apa-apa lagi tetapi tetap mengawasi dari jauh semua perbaikan yang dilakukan oleh warga sehingga perbaikan mereka tidak sampai melampaui batas atau melencenga dari jalur yang dikehendaki.

Faktor-faktor pendukung keberhasilan Partisipasi:

Titik berat proyek pada keterlibatan warga dalam perencanaan, pembangunan, pengelolaan, pemeliharaan, dan pendanaan

Sarana-sarana air bersih yang baru kebanyakan sudah memiliki perencanaan dan teknis pelaksanaan yang lebih baik

Dukungan dan keterlibatan tokoh lokal, baik yang formal maupun informal, sangat penting untuk mendukung kelangsungan proyek

Peraturan-peraturan tent Keinginan warga desa untuk memanfaatkan air dengan lebih baik dan pengalaman-pengalaman positif desa-desa peserta awal proyek

Sebagian besar UPS berfungsi secara efektif, dan sangat dipercaya, hal ini disebabkan pelatihan yang sudah mereka dapatkan, latar belakang mereka di daerah tersebut, dan adanya gaji dari pekerjaan yang mereka laksanakan

ang penggunaan air, bisa mengurangi potensi konflik

Faktor-faktor yang menghambat keberhasilan Partisipasi

Sejumlah warga tidak bisa menerima estimasi iuran pemeliharaan yang ternyata meleset, atau kenaikkan

jumlah iuran, juga iuran yang relatif mahal.

Berbagi sumber air bisa menjadi ancaman terhadap kesinambungan proyek

UPS yang kurang termotivasi juga bisa menjadi ancaman bagi kesinambungan proyek

Pemanfaatan air dengan tidak efisien

Kesulitan bahasa

Pemecahan Masalah Yang Dihadapi Dalam Studi Kasus:

Pemecahan masalah pada studi kasus diatas adalah meningkatan kerjasama warga, fasilitator dan pemerintah yang bersangkutan. Masyarakat juga sudah mulai sadar dan mau bertindak untuk mengambil keputusan tegas dalam memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri, dengan banyaknya masyarakat atau warga yang sadar akan hal tersebut dan mau menindak lanjuti kemauan mereka maka pemerintah dan fasilitator hanya perlu membimbing dan mengarahkan mereka pada tujuan yang mereka inginkan untuk merubah daerahnya menjadi lebih baik dan berpotensi lagi.

Pemecahan masalah ditinjau dari segi hambatan dan strategi yang ada, masalah timbul kebanyakan karena adanya salah paham antara pemerintah, fasilitator dengan warga yang memiliki daerah maka jalan keluar masalah tersebut adalah lebih membangun kesdaran, kepercayaan dan rasa saling mengahargai satu sama lain (pemerintah, fasilitator, dan warga setempat). Dengan rasa saling memubutuhkan dan menghargai seperti itu maka angka ketidakpercayaan dan hambatan-hambatan yang dapat mempengaruhi terbangunnya suatu kawasan dapat diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA STUDI KASUS:

Nn. 2006. The World Bank. INOVASI PELAYANAN PRO-MISKIN: SEMBILAN STUDI KASUS DI INDONESIA. http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Publication/280016-1152870963030/2753486-1165385030085/vopcasestudy_bhs.pdf. Diakses tanggal 1 April 2011

0 komentar on "PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM AIR BERSIH DAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KABUPATEN LUMAJANG JAWA TIMUR"

Posting Komentar

Jumat, 30 September 2011

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM AIR BERSIH DAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KABUPATEN LUMAJANG JAWA TIMUR


ANALISIS STUDI KASUS


Pada desa-desa di daerah Lumajang, Jawa Timur mereka telah sadar akan perlunya pembangunan di daerah permukimannya. Pada studi kasus tersebut telah terdapat banyak keadaran dari warga sekitar, maupun pemerintah sekitar untuk turut membantu dan memenuhi fasilitas yang memang seharusnya terpenuhi pada desa-desa di Lumajang. Disini terjadi peran aktif masyarakat sehingga fasilitator tidak merasa kesulitan lagi untuk mengajak masyarakat turut serta membangun daerahnya. Pada awalnya sebelum banyak desa yang menjadi tempat pelaksanaan proyek para fasiltator masih harus bekerjasama dengan pemerintah untuk menggerakkan masyarakat yang belum memmiliki banyak informasi, tetapi dengan kurun waktu dan proses yang panjang, pada akhirnya warga setempat memiliki inisiatif membangun desanya menjadi lebih baik lagi. Sehingga, desa-desa lain yang berada di sekitarnya yang masih dalam ruang lingkup daerah Lumajang tidak perlu untuk dibina secara intensif seperti desa-desa terdahulu, mereka telah mencari informasi dengan sendirinya karena memiliki keinginan untuk merubah desa mereka.

Para warga sudah masuk dalam tahapan ingin merancang desa mereka sendiri tetapi masih perlu adanya pengarahan dari pihak yang lebih berpengalaman yaitu fasilitator maupun pemerintah. Kesenjangan kepercayaan terhadap satu sama lainpun tidak dipermasalahkan karena warga sudah percaya dan mendapat banyak inforasi meski pemerintah dan fasilitator tidak mengintensifkan pemberian informasi terhadap warga. Di tingkatan yang dapat disebut partnership ini warga dan fasilitator bersama dengan pemerintah menjalankan proyek seperti harapan warga. Pemerintah memantau warga akan keputusan-keputusan yang dibuat oleh warga, warga membuat keputusan sendiri bersama degan masukan warga yang lain dan fasilitator mendampingi warga dalam penyuksesan proyek.

Dengan kesdaran warga yang begitu tinggi dan kemampuan warga yang tidak bisa diragukan lagi oleh pemerintah inilah yang akan membawa desa mereka menjadi desa yang maju dan menjadi seperti harapan banyak pihak. Di tingkatan ini warga mengontrol sendiri apa yang diperlukan oleh desanya, sudah ada penanganan sendiri meski tanpa bantuan dari masyarakat dan pihak fasilitator. Dana yang pada awalnya dialokasikan pemerintah menjadi berkurang dikarenakan warga sudah berinisiatif sendiri untuk membangun desanya dengan iuran wajib yang mereka laksanakan sendiri. Partisipasi yang sudah mencapai tingkat tertinggi inilah yang akan sangat membantu pemerintah untuk mengentaskan kawasan-kawasan yang perlu untuk dibangun dan diperbaiki kembali. Pemerintah dan fasilitator pada tingkatan tertinggi dalam tangga partisipasi ini bukan tidak melakukan tugas apa-apa lagi tetapi tetap mengawasi dari jauh semua perbaikan yang dilakukan oleh warga sehingga perbaikan mereka tidak sampai melampaui batas atau melencenga dari jalur yang dikehendaki.

Faktor-faktor pendukung keberhasilan Partisipasi:

Titik berat proyek pada keterlibatan warga dalam perencanaan, pembangunan, pengelolaan, pemeliharaan, dan pendanaan

Sarana-sarana air bersih yang baru kebanyakan sudah memiliki perencanaan dan teknis pelaksanaan yang lebih baik

Dukungan dan keterlibatan tokoh lokal, baik yang formal maupun informal, sangat penting untuk mendukung kelangsungan proyek

Peraturan-peraturan tent Keinginan warga desa untuk memanfaatkan air dengan lebih baik dan pengalaman-pengalaman positif desa-desa peserta awal proyek

Sebagian besar UPS berfungsi secara efektif, dan sangat dipercaya, hal ini disebabkan pelatihan yang sudah mereka dapatkan, latar belakang mereka di daerah tersebut, dan adanya gaji dari pekerjaan yang mereka laksanakan

ang penggunaan air, bisa mengurangi potensi konflik

Faktor-faktor yang menghambat keberhasilan Partisipasi

Sejumlah warga tidak bisa menerima estimasi iuran pemeliharaan yang ternyata meleset, atau kenaikkan

jumlah iuran, juga iuran yang relatif mahal.

Berbagi sumber air bisa menjadi ancaman terhadap kesinambungan proyek

UPS yang kurang termotivasi juga bisa menjadi ancaman bagi kesinambungan proyek

Pemanfaatan air dengan tidak efisien

Kesulitan bahasa

Pemecahan Masalah Yang Dihadapi Dalam Studi Kasus:

Pemecahan masalah pada studi kasus diatas adalah meningkatan kerjasama warga, fasilitator dan pemerintah yang bersangkutan. Masyarakat juga sudah mulai sadar dan mau bertindak untuk mengambil keputusan tegas dalam memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri, dengan banyaknya masyarakat atau warga yang sadar akan hal tersebut dan mau menindak lanjuti kemauan mereka maka pemerintah dan fasilitator hanya perlu membimbing dan mengarahkan mereka pada tujuan yang mereka inginkan untuk merubah daerahnya menjadi lebih baik dan berpotensi lagi.

Pemecahan masalah ditinjau dari segi hambatan dan strategi yang ada, masalah timbul kebanyakan karena adanya salah paham antara pemerintah, fasilitator dengan warga yang memiliki daerah maka jalan keluar masalah tersebut adalah lebih membangun kesdaran, kepercayaan dan rasa saling mengahargai satu sama lain (pemerintah, fasilitator, dan warga setempat). Dengan rasa saling memubutuhkan dan menghargai seperti itu maka angka ketidakpercayaan dan hambatan-hambatan yang dapat mempengaruhi terbangunnya suatu kawasan dapat diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA STUDI KASUS:

Nn. 2006. The World Bank. INOVASI PELAYANAN PRO-MISKIN: SEMBILAN STUDI KASUS DI INDONESIA. http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Publication/280016-1152870963030/2753486-1165385030085/vopcasestudy_bhs.pdf. Diakses tanggal 1 April 2011

0 komentar:

Posting Komentar

 

The Amazing World Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting